Selasa, 22 November 2011

perempuan bukan sebuah siluet

Jam pulang masih satu setengah jam lagi, aku sudah tidak sabar ingin cepat pulang. Hampir sebulan kita tak bertemu karena kita sama-sama tidak punya waktu. Organisasi tempatku mengabdi saat ini berencana mengadakan seminar nasional yang tentu saja menguras banyak energi dan kamu sibuk merealisasikan cita-citamu sendiri. Betapa senangnya aku saat semua selesai dan kamu bilang urusanmu juga . Itu artinya ada waktu untuk kita.
Melihat lesung pipimu saat tersenyum, rasanya damai sekali. Kadang aku heran, gadis sepertimu bisa membuatku berubah. Padahal aku termasuk orang yang kurang peduli dengan orang lain. Mungkin karena kamu berbeda dari lainnya. Kamu mampu membuatku berpikir ribuan kali tentang arti seorang perempuan. Karena perkataan tegasmu padaku tempo hari “perempuan bukan sebuah siluet”. Sejak itu aku mulai responsif dengan kiprah perempuan. Dan sejak itu pula aku mulai mengenal dan menyukaimu. Latar belakang keluargamu memang tidak semulus keluarga lain. Tapi semangatmu untuk hidup sama dengan orang lain membuatku kagum.
Pertemuan kita terasa berbeda dari sebelumnya. Dadaku berdebar-debar. Memang ada sesuatu yang ingin ku beritahu padamu. Tapi kamu mendahuluiku.
“Pemandangannya dari sini bagus, ya. Kayak di film-film” katamu sambil tersenyum. Aku cuma mengangguk mengiyakan. Kenapa susah sekali rasanya mengeluarkan kata-kata. Segenap keberanian telah ku kumpulkan namun akhirnya urung juga.
“Kakak kenapa, katanya tadi lagi galau. Ada masalah ?” tanyamu menggagalkan lagi usahaku.
“Nggg .. iya, eh nggak. Udah kelar galaunya. Tapi masih sisa sedikit sih” jawabku ngawur.
“Kok masih ada sisanya, ayo crita ke aku. Siapa tahu aku bisa bantu” katamu menawarkan. Lama tak ada kata yang terucap. Kamu mulai khawatir padaku.
“Haloo .. kakak nggak kenapa-kenapa kan. Kalo kakak sakit ayo kita ....”
“Aku berharap suatu saat nanti, aku bisa menyematkan namaku di belakang namamu” kataku memotong ucapanmu. Lega rasanya bisa mengeluarkan apa yang selama ini terpendam. Mungkin tidak terlalu romantis, tapi aku berharap itu lebih dari cukup untuk bisa mengungkapkan perasaanku padamu.
Kamu diam. Terlihat kebingungan. Sepertinya aku harus berbicara lebih jelas.
“Aku suka kamu, Rhea”.

        Wajah itu kini bersemu. Satu lagi hal yang berhasil dia lakukan padaku. Membuat seorang laki-laki skeptis sepertiku menyatakan cinta. Kamu benar, perempuan memang bukan sebuah siluet. Perempuan bukan hanya bayang-bayang yang mengikuti kemana langkah laki-laki pergi. Entah hilang kemana sifat dinginku, yang jelas saat ini aku merasa sangat bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...